Senin, 06 Juli 2009

FILSAFAT RENE DESCARTES

Pengertian Filsafat
Secara terminologis filsafat adalah suatu pemikiran yang rasional dalam usaha mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh dalam upaya untuk mendapatkan suatu kebenaran.
Obyek Filsafat
1.Obyek Material
Kajian filsafat yang “ada”, kongkrit-abstrak, maujud-tidak maujud, materil immaterial, phisik-non phisik
2.Obyek formal
Sudut pandang filsafat dalam mengkaji obyek immaterialnya, yaitu:
Sudut Antologi
Merupakan hakekat segala sesuatu membicarakan subtansi, esensi dan realita yang tertuang dalam beberapa aliran yaitu aliran idealisme (bahwa kenyataan adalah ide, segala sesuatu berasal dari ide), materialisme (bahwa kenyataan adalah materi, materialisme merupakan bentuk natural), dan pluralisme (bahwa kenyataan itu banyak, tetapi mempunyai hubungan satu sama lain) Sunoto(2000:22-23).
Selain itu ontology juga membahas tentang masalah “kebendaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) , misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup,atau tata surya.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)
Sudut Epistemologi
Menurut Popper epistemology memperjuangkan pengetahuan didasarkan oleh rasionalisme dalam arti luas yaitu belajar dari kesalahan dan terbuka untuk kerja sama mendekati kebenaran. Sehingga rasionalis yang fundamental merupakan hasil dari suatu tindakan kepercayaan pada akal sebagai basis kesatuan manusia (1989:156)
Menurut Kaelan, epistemology adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (2002:28)
Sudut Aksiologi
Aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia.
.(http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat)
Ciri-ciri Berfilsafat
1.kritis
mempertanyakan segala sesuatu permasalahan yang dihadapi manusia.
2.terdalam
tidak hanya sampai pada fakta-fakta yang khusus dan empiris tetapi sampai pada inti yang terdalam yaitu subtansinya bersifat universal. Kaelan(2002:13)
3.konseptual
tidak hanya pada persepsi belaka tapi sampai pada pengertian yang bersifat konseptual.
4.koheren
berfilsafat yang berusaha menyusun suatu bagan secara runtut.misalnya A B C D E F G, dst
5.rasional
sesuai dengan nalar , hubungan logis antara bagian bagan konseptual.
6.menyeluruh
pemikiran yang tidak hanya berdasarkan pada fakta yaitu tudak sampai pada kesimpulan khusus tetapi sampai pada kisimpulan yang paling umum.
7.universal
samapi pada kesimpulan yang paling umum bagi seluruh umat manusia dimanapun. Kapanpun dan dalam keadaan apapun.
8.spekulatif
pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas akal
9.sistematis
ada hubungan antar unsure ysng runtut tetapi rasional inlah yang dimaksud sistematis.
10.bebas
berfikir secara bebas untuk sampai pada kakekat yang terdalam dan universal.


Sifat-sifat Dasar Filsafat
1.mempunyai tingkat keumumamn yang tinggi
2.tidak faktawi
3.berkaitan dengan makna
4.berkaitan dengan nilai
5.mencengangkan
6.implikatif

Metode Filsafat
1.Metode Analisis
Menguji,menguraikan, menilai, mendiskripsikan suatu kajian dengan sangat teliti
2.Metode Sintensis
Pernyataan-pernyataan yang berserakan dijadikan satu
3.Metode Analitiko-Sistensis
Gabungan antara metode analisis dan sintesis dengan melakukan perincian terhadap istilah/pernyataan. Kemudian mengumpulkan kembali suatu islitah/ pengetahuan-pengetahuan itu untuk menyusun suatu rumusan umum.
4.metode Dialog Sokrates
dialog antara dua pendirian yang berbeda metode dasar untuk menyelidiki filsafat.



Perangkat Metode Filsafat
Perangkatnya adalah logika yaitu cara-cara atau aturan-aturan berfikir untuk mencapai kesimpulan setelah didahului oleh premis. Logika dibagi menjadi dua:
1.logika deduktif =berangkat dari pernyataan umum untuk memperoleh kesimpulan khusus.
2.logika induktif = penarikan kesimpulan yang berasal dari pernyataan-pernyataan khusus.
1.Filsafat Barat
Filsafat barat tidak berhenti pada filsafat sebagai pandangan hidup belaka, tetapi berhasil menumbuhkan dan mengembangkan ilmu-ilmu modern termasuk metodenya yang diperluas.
Klasik
Menurut ajaran Sokrates dipusatkan pada manusia dengan megamati yang kongkrit dan macam-macam coraknya dan kemudian dihilangi yang berbeda dan muncul yang sama.
Poedjawawijatna(1997:30)
Pertengahan
Filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan.
Poedjawawijatna(1997:82)
Komtemporer
Modern
Pelopornya Deskartes, yang filsafatnya mendalam serta meyelidiki sampai yang mendalam yang dipandang dari sudut kesadaran.
Poedjawawijatna(1997:30)


Biografi Rene Descartes

Rene Descartes (1596-1650) adalah ahli filsafat dan matematika Perancis, pengarang, penemu geometri analitik, penemu cara berpikir rasionalistis hingga disebut "Bapak Filsafat Modern". Ia lahir di La Haye, Touraine, Prancis, pada tanggal 31 Maret 1596 dan meninggal di Stockholm, Swedia, pada tanggal 1 Febuari 1650. Ia juga dikenal sebagai Cartesius dan karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Ia tidak pernah menikah meskipun pernah punya anak bersama pembantunya. Namun anak itu meninggal dan menyebabkan kesedihan yang dalam. Ayahnya hakim dan pengacara kaya. Ketika Descartes baru berumur satu tahun, ibunya meninggal. Ayahnya kawin lagi. Descartes dipelihara oleh neneknya. Sejak itu ia tidak pernah melihat ayahnya lagi.

Descartes adalah anak yang sangat cerdas, suka berpikir, dan suka menyendiri. Pada waktu ayahnya meninggal dan saudaranya sekandung menikah, ia tak mau datang. Pada umur 8 tahun ia masuk Royal College yang dikelola pastur-pastur Yesuit. Ia belajar di tempat itu selama 10 tahun. Ia mendapat pelajaran bahasa Yunani, Latin, Perancis, usik, drama, mengarang, bermain anggar, dan naik kuda. Pada tahun kuliah terakhir ia belajar filsafat., moral, dan matematika. Tapi ilmu pengethuan yang ia terima hanya menimbulkan keraguan dalam jiwanya kecuali matematika. Karena kesehatannyalemah, ia diperbolehkan terlambat kuliah atau tidak mengikuti kuliah. Meskipun demikian pada tahun 1616 pada umur 20 tahun, ia berhasil menggondol gelar ahli hukum. Sesudah itu ia mengembara menjadi tentara di Jerman dan Belanda.

Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Pada suatu malam ia bermimpi. Dalam hidup itu ia mendapat tugas menyusun dasar untuk segala ilmu dengan satu metode. Sejak itu ia bermaksud hidup untuk mencari kebenaran atau sebagai kebenaran, sebab zaman itu yang disebut benar adalah kata-kata pejabat baik pejabat negara, gereja, atau pendidikan.

Descartes mulai berpikir keras. Ia meragukan segalanya. Ia meragukan adanya dunia, adanya Tuhan, bahkan adanya dirinya.”Benarkah Tuhan ada? Benarkah dunia ada? Benarkah badanku ada?” Akhinya ia sampai pada kesimpulan ini, “Karena saya ragu, maka saya berpikir. Karena saya berfikir, maka saya ada. Karena saya ada, maka Tuhan ada dan orng lain pun ada.” Ucapan Descartes yang jadi masyhur adalah dalam bahasa latin “Cogito, ergo sum” dalam bahasa Perancis “Je pense donc je suis” yang artinya : Saya berpikir, maka saya ada.

Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta Sistem Koordinat Kartesius, yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern.




Aliran
III. DUALISME
a. Pengertian Pokok.
Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri
atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam
hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi.
Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang
paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri
manusia.
b. Tokoh-tokohnya.
1. Plato (427 -347 Sb.H)
2. Aristoteles (384 -322 Sb.H)
3. Descartes (1596 -1650)
4. Fechner (1802 -1887)

a. Pengertian Pokok.
Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang
berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran
yang hakiki.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai
akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah
penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.
Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu
pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu
alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang
terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang
© 2003 Digited by USU Digital Library 4
hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII
dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia
yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika
Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang
berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus
diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki
suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar
kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat
akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam
kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan
manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu
pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

b. Tokoh-tokohnya
1. Rene Descartes (1596 -1650)
2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)
4. G.W.Leibniz (1946-1716)
5. Christian Wolff (1679 -1754)
6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)



RASIONALISME RENÉ DESCARTES
Kehidupan dan Karya René Descartes
René Descartes atau Cartesius dilahirkan di La Haye, sebuah kota kecil di
Touraine, Perancis tahun 1596.19 Ia mendapatkan pendidikan di sekolah Jesuit di
La Flèche. Selama di sekolah ini, karena kondisi kesehatannya yang kurang baik,
ia diizinkan untuk tetap berada di tempat tidur dan ini pada akhirnya menjadi
sebuah kebiasaan selama hidupnya. Di sekolah Jesuit, Descartes mendapatkan
pelajaran-pelajaran tentang filsafat, fisika dan matematika. Selama di sekolah ini
pula ia ikut merayakan ditemukannya berbagai bulan yang ada pada planet
Jupiter tahun 1611.
Setelah meninggalkan La Flèche, Descartes melanjutkan pendidikannya ke
sekolah hukum di Poitiers. Selanjutnya ia berpergian di beberapa negera Eropa
selama satu dekade, termasuk tiga tahun di Paris, di mana ia menemukan
Mersenne, yang kemudian menjadi mentornya. Pada tahun 1629, dalam
pencariannya akan ketenangan dan kesunyaian, ia menetap di Belanda. Belanda
dianggap sebagai tempat yang paling tepat karena iklim kebebasannya yang
terbaik di Eropa.20 Descartes menetap di Belanda sampai dengan 1649. Pada
rentang waktu tahun-tahun inilah ia menulis banyak karya ilmiah.21 Pada Oktober
1649 pula ia pindah ke Stochkholm, Swedia, namun pada Februari tahun
berikutnya yakni 1650, ia wafat karena penyakit pneumonia.22
Sebagai seorang filosof, Descartes telah menghasilkan beberapa karya
filsafat yakni: Discours de la méthode pour bien conduire sa raison et chercher

Ajarannya
René Descartes mengajukan argumentasi yang kukuh untuk pendekatan
rasional terhadap pengetahuan. Hidup dalam keadaan yang penuh dengan
pertentangan ideologis, Descartes berkeinginan untuk mendasarkan keyakinannya
kepada sebuah landasan yang memiliki kepastian yang mutlak. Untuk itu, ia
melakukan berbagai pengujian yang mendalam terhadap segenap yang
diketahuinya. Dia memutuskan bahwa jika ia menemukan suatu alasan yang
meragukan suatu kategori atau prinsip pengetahuan, maka ketegori itu akan
dikesampingkan. Dia hanya akan menerima sesuatu yang tidak memiliki
keraguan apa-apa. Apapun yang masih dapat diragukan maka hal tersebut wajib
diragukan. Seluruh pengetahuan yang dimiliki manusia harus diragukan termasuk
pengetahuan yang dianggap paling pasti dan sederhana.25 Keraguan Descartes
inilah yang kemudian dikenal sebagai keraguan metodis universal.
Pengetahuan-pengetahuan yang harus diragukan dalam hal ini adalah
berupa: segala sesuatu yang kita didapatkan di dalam kesadaran kita sendiri,
karena semuanya mungkin adalah hasil khayalan atau tipuan; dan segala sesuatu
yang hingga kini kita anggap sebagai benar dan pasti, misalnya pengetahuan yang
telah didapatkan dari pendidikan atau pengajaran, pengetahuan yang didapatkan
melalui penginderaan, pengetahuan tentang adanya benda-benda dan adanya
tubuh kita, pengetahuan tentang Tuhan, bahkan juga pengetahuan tentang ilmu
pasti yang paling sederhana.26
Menurut Descartes, satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah
eksistensi dirinya sendiri; dia tidak meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu.
Bahkan jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada; dia berdalih
bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang
disesatkan.27 Aku yang ragu-ragu adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal
karena apabila kita menyangkalnya berarti kita melakukan apa yang disebut
kontradiksi performatis. Dengan kata lain, kesangsian secara langsung
menyatakan adanya aku, pikiranku yang kebenarannya bersifat pasti dan tidak
tergoyahkan. Kebenaran tersebut bersifat pasti karena aku mengerti itu secara
jernih dan terpilah-pilah atau dengan kata lain tidak ada keraguan sedikit pun di
dalamnya. Kristalisasi dari kepastian Descartes diekspresikan dengan diktumnya


yang cukup terkenal, “cogito, ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. 28
Beberapa catatan ditambahkan oleh Gallagher dan Hadi29 tentang maksud
dari cogito, ergo sum ini. Pertama, isi dari cogito yakni apa yang dinyatakan
kepadanya adalah melulu dirinya yang berpikir. Yang termaktub di dalamnya
adalah cogito, ergo sum cogitans. Saya berpikir, maka saya adalah pengada yang
berpikir, yaitu eksistensi dari akal, sebuah substansi dasar. Kedua, cogito
bukanlah sesuatu yang dicapai melalui proses penyimpulan, dan ergo bukanlah
ergo silogisme. Yang dimaksud Descartes adalah bahwa eksistensi personal saya
yang penuh diberikan kepada saya di dalam kegiatan meragukan.
Lebih jauh, menurut Descartes, apa yang jernih dan terpilah-pilah itu tidak
mungkin berasal dari luar diri kita. Descartes memberi contoh lilin yang apabila
dipanaskan mencair dan berubah bentuknya. Apa yang membuat pemahaman kita
bahwa apa yang nampak sebelum dan sesudah mencair adalah lilin yang sama?
Mengapa setelah penampakan berubah kita tetap mengatakan bahwa itu lilin?
Jawaban Descartes adalah karena akal kita yang mampu menangkap ide secara
jernih dan gamblang tanpa terpengaruh oleh gejala-gejala yang ditampilkan lilin.
Oleh karena penampakan dari luar tidak dapat dipercaya maka seseorang
mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya sendiri yang bersifat pasti.
Ide-ide yang bersifat pasti dipertentangkan dengan ide-ide yang berasal dari luar
yang bersifat menyesatkan.30
Berbeda dengan para rasionalis-ateis seperti Voltaire, Diderot dan
D’Alembert, Descartes masih memberi tempat bagi Tuhan. Descartes masih
dalam koridor semangat skolastik yaitu penyelarasan iman dan akal. Descartes
mempertanyakan bagaimana ide tentang Tuhan sebagai tak terbatas dapat
dihasilkan oleh manusia yang terbatas. Jawabannya jelas. Tuhanlah yang
meletakkan ide tentang-Nya di benak manusia karena kalau tidak keberadaan ide
tersebut tidak bisa dijelaskan.31
Descartes merupakan bagian dari kaum rasionalis yang tidak ingin
menafikan Tuhan begitu saja sebagai konsekuensi pemikiran mereka. Kaum
rasionalis pada umumnya “menyelamatkan” ide tentang keberadaan Tuhan
dengan berasumsi bahwa Tuhanlah yang menciptakan akal kita juga Tuhan yang
menciptakan dunia.
Tuhan menurut kaum rasionalis adalah seorang “Matematikawan Agung”.
Matematikawan agung tersebut dalam menciptakan dunia ini meletakkan dasardasar
rasional, ratio, berupa struktur matematis yang wajib ditemukan oleh akal
pikiran manusia itu sendiri.32

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar