Senin, 06 Juli 2009

Kampung Naga

PENDAHULUAN

Kampung Naga adalah sebuah perkampungan yang di huni oleh Masyarakat suku sunda yang berada di Garut tepatnya di kecamatan Neglasari, konon pada masa Kerajaan Galunggung di abad 15-16, lembah Kampung Naga adalah tempat persembunyian Singaparna yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Naga. Singaparna-putera bungsu Prabu Rajadipuntang, Raja terakhir Kerajaan Galunggung-ditugaskan menjaga pusaka kerajaan dari incaran para pemberontak. Untuk itu ia mewarisi ilmu “kebodohan” dari ayahnya. Dengan bekalnya, Singaparna di harapkan dapat bersembunyi mengelabui musuh agar pusaka tetap aman. Dipilih-nyalah suatu lahan di kaki bukit, ditepi sungai Ciwulan, tersembunyi dikelilingi bukit-bukit.
 Di tempat itu Singaparna membangun per-mukiman untuk melanjutkan kehidupannya.Lahan yang strategis itu bagaikan “tersembunyi di tempat yang terang”. Sungai, mata air, hutan,lahan subur serta aliran udara yang menyediakan semuanya yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan permukiman. Lahan dari kampung naga ini sendiri berada di lereng gunung yang terjal dan tersembunyi dari luar sehingga penggunaan teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah maupun lahan menggunakan system sengkedan dan bahan-bahan alam yang berada di sekitarnya sehingga antara semuanya memiliki satu kesatuan dan saling terikat juga tidak merusak alam sekitarnya , hal itu di karenakan hukum adat yang di pegang oleh masyarakat Naga sangat di jaga dan yang memimpin dari kesemuanya itu adalah seorang kuncen yang dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin mereka.
Analisa Kontur
 Kampong naga sendiri yang berada di lereng gunung serta di kelilingi oleh gunung, sehingga pola tapak mengunakan tipe sengkedan, yang mana sangat fungsional baik dari segi pertanian, pembangunan serta keadaan kontur gunung yan tidak stabil sehingga dimungkinkan dengan kontur dibuat sengkedan agar memudahkan penyaluran air untuk pertanian khususnya persawahan, mengurangi resiko terjadinya Longsor serta dengan adanya sengkedan maka akan secara tidak langsung membuat sebuah filosofi dari beda ketinggian antara satu bangunan dengan bangunan yang lainya yang mana bangunan yang memiliki nilai sakralisai tinggi ditempatkan di tempat yang tinggi/ orang yang di tuakan di tempatkan di tempat tinggi sedangkan yang muda berada di bawah sehingga seolah-olah yang muda menjaga yang tua.
Fungsi Arsitektur Menurut Jan Mukarovsky
1. Referential Function 
Arsitektur mengacu pada referensi kelokalan atau tradisi dan juga kesejarahan
Arsitektur tersusun oleh komposisi & kombinasi elemen-elemen bentuk & ruang , yang masing-masing mengacu pada referensi kelokalan (budaya) & kesejarahan
Suatu arsitektur yang terkomposisi secara khas (terkait ruang & waktu) menunjukkan keberbedaan referensi dengan variasi arsitektur lainnya
Untuk dapat memahami fungsi estetis, arsitektur harus dihadirkan berdasarkan 
2. Aesthetic Function 
Fungsi estetika adalah potensi yg bisa ditonjolkan dari suatu tipe arsitektur di samping struktur 
Ruang lingkup fungsi ini meliputi keharmonisan antara warna, tekstur, media, wujud geometri, dan kesesuaian pengaturan komposisi pada lingkungannya
Fungsi estetika adalah pesan arsitektural yang harus dipahami oleh pengamatnya
3. Allusory Function 
Fungsi ini melihat arsitektur secara faktual dengan cara menangkap “kenangan” dari arsitektur lain sebagai acuan
Fungsi ini didasarkan pada manifestasi “kenangan” sejarah, misalnya dengan menonjolkan sebagian atau beberapa bagian bangunan bersejarah ke dalam bentuk bangunan yang dibuat di masa sekarang 
Contoh pada kasus restoran di suatu kota Eropa yang beberapa komponen bangunannya meniru gaya rumah bangsa Jepang
4. Territorial Function 
Fungsi ini dapat memberikan kejelasan teritori suatu ruang dalam pembedaannya dengan ruang yang lain
Instruksi yang dipakai untuk membedakan fungsi ruang suatu bangunan dengan ruang yg lain dapat dilakukan dengan penandaan setiap elemen pembentuk ruangnya
Penandaan ini mencakup kesan elemen pembentuk ruang beserta suasana ruang yang tercipta secara khas & spesifik



5. Expressive Function 
Fungsi ini adalah bentuk penekanan & pengejawantah-an terhadap bermacam aspek identitas, melalui isyarat-isyarat atau penanda yang diberikan pada arsitekturnya
Isyarat atau penanda itu diterjemahkan ke dalam arsitektur sebagai pembedaan fungsi serta untuk siapa ruangan yang ada pada arsitektur tersebut ditujukan
Isyarat-isyarat seperti ini akan melibatkan detail-detail geometri atau bentuk-bentuk spatial, penggunaan material yang khas, warna, tekstur, norma-norma pemakaian dan ketepatan
Factor Iklim

Keadaan iklim di daerah ini adalah tropis basah sehingga :
Cirri ilkim tropis basah
Presipitasi dan kelembaban tinggi
Temperature yang selalu tinggi
Angin sedikit
Radiasi matahari sangat kuat
Pertukaran panas sangat kecil

Masalah umum
Panas sangat tidak menyenangkan
Penguapan sedikit, gerak udara lambat
Perlu perlindungan terhadap radiasi matahari, hujan dan serangga


Hal yang harus diperhatikan
Bangunan pada kampong naga ini terbuka dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain memiliki ruang yang cukup sehingga sirkulasi udara dapat mengalir kesetiap sisi rumah
Rumah-rumah yang berada di kampong naga ini menghadap ke utara dan selatan guna menghindari matahari secara langsung yang mencoba memasuki rumah
Penggunaan teras pada depan rumah sebagai peneduh
Tatanan masa
Rumah suku sunda ini memiliki bentuk persegi panjang yang terdiri dari 6 Zona yang mana tiap-tiap zona memiliki fungsi masing-masing serta dapat di klasifikasikan sebagai Zona “feminim”, Zona “maskulin” dan Zona Netral











Gambar 1. Denah Rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung naga:jakarta 2001)

1.Tepas (Ruang Tamu)
2.Pangkeng (Ruang Tidur)
3.Tengah imah (Tengah Rumah)
4.Pawon (Dapur), 4a : Kompor
5.Goah
6.Golodog (Teras Rumah) 
Pawon dan Goah adalah Zona feminism yang umumnya digunakan oleh para wanita, Sedangkan Tepas dan Golodog adalah Zona maskulin yang sering digunakan oleh para pria sedangkan pangkeng dan tengah imah merupakan daerah netral yang digunakan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan. Adanya penzoningan tersebut dimungkinkan untuk memudahkan pengawasan serta kebutuhan-kebutahn yang diperlukan oleh user atau jika secara bahasa arsitektur ialah ruangan privat,semi privat dan publik


TATANAN MASA
 Keadaan alam kampung Naga yang tropis basah sehingga mengakibatkan kelembaban yang sangat tinggi serta berada di lereng gunung sehingga bentukan-bentukan bangunannya pun ikut mempengaruhi seperti bentuk atap pelana yang setengah patah ke dalalm memungkinkan merembesnya air hujan menjadi lebih cepat.
TANDUK
Berfungsi untuk menyalurkan air sehingga tidak merembes ke dalam para (langit-langit/plafond), juga sebagai penyangga langit-langit rumah








ATAP











Gambar 2. konstruksi Atap
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



Berbentuk sulah nyanda (bentuk atap pelana setengah patah kedalam) dengan penutup atap berupa daun eurih yaitu sebangsa ilalang, atau daun tepus yang lalu ditutupi ijuk. Bahan-bahan ini memungkinkan pergantian udara kedalam rumah melalui atap. Masyarakat Naga percaya bahwa mempergunakan atap genteng adalah tabu, dan selain itu mempergunakan ijuk lebih tahan lam daripada menggunakan Genteng. Akan tetapi dari kekurangan bahan ijuk ini adalah struktur dari langit-langit atap harus lah kuat, hal itu dikarenakan ijuk yang digunakan sangat banyak serta memiliki ketebalan sampai 10 cm sehingga beban ke pondasi langit-langit sendiri sangat berat.

DINGDING

Dingding dari bangunan pada rumah suku Sunda mempunyai rangka dari kayu Albasia berukuran 5 x 10 cm. Untuk penutup digunakan anyaman sasag, anyaman bilik dan papan kayu. Jenis bambu untuk bahan dingding adalah bambu tali(awi tali). Sebelum digunakan, semua bahan bambu di jemur terlebih dhulu untuk meningkatkan keawetannya. Sedangkan dari segi kekurangan dari bahan anyaman bambu ini adalah dinginnya udara pada malam han dari akan sangat terasa dingin juga perlu pengecetan menggunakan kapur agar tidak lembab serta menjaga keawetan dari bangunan itu sendiri.


Gambar 3 & 4. Anyaman Bambu sebagai dingding
(Sumber: Observasi)



TIANG / TIHANG
Terbuat dari kayu Albasia yang dipotong 10 x 10 cm. Supaya lebih awet, tiang dan bahan kayu lain direndam dalam Lumpur minimal 40 hari, dibersihkan, dan dijemur. Untuk menghindari kelembaban tanah, tiang(tihang) tidak diletakan langsung di atas tanah melainkan diberi alas batu yang di sebut tatapakan(pondasi)








Gambar 5. Tihang dan pondasi
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

PINTU/PANTO
Letak pintu berdasarkan perhitungan weton(hari lahir) istri pemilik rumah. Lebar pintu sekitar 70 cm dengan ketinggian 150-170 cm. Umumnya di buat dari kayu dengan tebal 4cm dan kaca sebagai tambahan. Khusus untuk pintu dapur di wajibkan penggunaan anyaman sasag vertical dan digantung rempah-rempah serta ketupat yang di maksudkan untuk menolak bala(musibah)

















Gambar 6. macam-macam pintu
(Sumber: Observasi)

JENDELA
Daun jendela umumnya terbuat dari kayu suren atau albasia. Ukuran Jendela berkisar antara 40 x 60 cm atau 50 x 70 cm dan saat ini kaca pada kampung Naga sendiri sudah menggunakan kaca sedangkan pada jaman dulu menggunakan Jalusi sebagai sirkulasi udara serta masuknya cahanya. Kelenihan dari menggunakan kaca sendiri yakni lebih efisien dari segi waktu,pencahayaan lebih bagus daripada Jalusi serta lebih hemat dalam biaya. 


Gambar 7. Jendela
(Sumber: Observasi)

LANTAI
Terbuat dari papan kayu memanjang, lebarnya 15-20 cm. Kadang di alasi tikar untuk duduk-duduk. Dapur menggunakan lantai palupuh . Bambu yang digunakan untuk membuat palupuh adalah jenis awi surat berdiameter (+)(-) 20.Penggunaan kayu pada lantai memberikan kesan hangat pada penghuni rumah, akan tetapi penggunaan kayu yang rentan terhadap lembab sehingga mengakibatkan lapuk sehingga kayu memerlukan pengawetan.

GOLODOG
Ruang peralihan sebelum masuk ke-rumah ini terbuat dari kayu dan bambu dengan bentuk empat persegi panjang. Ketinggiannya tergantung pondasi sehingga dapat mempunyai satu atau dua undakan. Golodog sendiri biasa digunakan oleh penghuni sebagai tempat melepas letih dan bercengkrama dengan tamu sebelum memasuki ruang tamu.

BATU PONDASI / TATAPAKAN
Ada dua jenis tatapakan, yaitu tatapakan jangkung dengan permukaan atas 20 x 20 cm dan permukaan bawah 25 x 25 cm, dan tatapakan buleud (bundar). Gaya berat rumah tersalur kedalam banyak titipk tatapakan, yaitu 5 titik di sisi panjang (palayu) dan 4 titik di sisi pendek (pongpok) 

Gambar 8. Pondasi
(Sumber: Observasi)

METODE KONSTRUKSI 

Masyarkat naga dalam memenuhi kebutuhan bahan bangunannya , mereka mendapatkanynya dari alam atau biasa juga di ambil dari kebun sendiri bahan-bahan seperti kayu dan bambu.
Adapun dalam membangun rumah mereka bekerja secara gotong royong seperti :
1.Pekerjaan pertama adalah meratakan tanah dan mengukur besar rumah. Masyarakat Naga percaya bahwa ukuran denah rumah perlu dilebihkan sebesar telapak tangan supaya penghuninya kelak selalu dikaruniai rezeki, diistilahkan dengan panghurip. Dipasang pula bentengan (batu-batu penahan tanah di sekeliling tapak rumah). Tstspsksn (pondasi) diletakan sesudahnya dan dilanjutkan dengan upacara pemotongan ayam.
2.Balok-balok utama dipasang- balok sisi pendek disebut gagulur sedangkan balok sisi panjang disebut sarang. Sesuai pemasangan parako sebagai penyangga hawu, tiang-tiang utama didirikan dengan ketentuan 5 tiang kayu di sisi panjang, disebut 5 katimbang, dan 4 tiang kayu di sisi pendek. Balok-balok rangka dingding atau palang dada dan kusen .
3.Rangka atap yang telah disiapkan didirikan dan disusul dengan pemasangan penutupa atapnya
4.Tapah akhir adalah tahap penyelesaian. Bahan penutup lantai, dingding, daun pintu dan daun jendela dipasan pada tahap ini. Slametan diadakan sekali lagi setelah rumah selesai



































pada umumnya elemen 

Gambar 9. konstruksi rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

konstruksi bangunan-tiang, atap, rangka dingding-disambungkan dengan cara di paku, diikat dengan tali dari bamboo, atau di buat lubang atau pen(tonjolan pada ujung balok yang ukurannya sesuai dengan ukuran lubang). Balok lantai malah hanya ditumpangkan pada batu pondasi. System struktur seperti ini justru lebih tahan gempa.

Teknologi

Teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah Naga ini menggunakan bahan material alam serta, didirikan secara gotong royong, adapun faktr teknologi kehidupan di kampung naga ini yang mana karena sebagian lahan kampong naga ini mempunyai kemiringan yang cukup curam sehingga, hal ini mendorong masyarakat Naga untuk bersikap bijaksana dalam membentuk lahan pemukiman, dan teknologi warisan leluhur berupa sengked batu menjadi car untuk menjawab kondisi alam, sengkedan tersebut menggunakan batu sungai ciwulan sebagai penahan. Tinggi sengked-sengked batu tersebut berkisar antara empat puluh sentimeter sampai 6 meter.
 System sengkedan tersebut memungkinkan lahan lebih stabil,sehingga bangunan-bangunan dapat berdiri, tertata rapi di lahan-lahan datar yang terbentuk oleh system sengkedan itu. Lumut yang tumbuh di antara batu-batu sengked, melekatkan batu-batu itu satu sama lainnya sehingga memperkokoh konstruksi sengked.









Gambar 10. pemanfaatan Limbah 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

Pemilihan lahan

Lahan dari kampung naga ini, dikelilingi oleh bukit-bukit sehingga kampong Naga ini berada dilereng dari bukit tersebut oleh karena itu system yang di gunakan dalam pembangunan rumah ini menggunakan sisitem sengked sehingga sangat menyatu dengan alam sekitar. Kesederhanaan masyarakat naga juga telihat dari besaran lahan yang akan digunakan sebagai rumah hanya 30-60 m tiap rumahnya

Gambar 11. Lahan 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



INTERIOR
Bagian dalam rumah Naga Atau interiornya sangat minimalis sekali atau tanpa corak, hal itu di karenakan adanya kesederhanaan pada masyarakat naga dan yang ada hanya anyaman dari bamboo yang menjadi dingding pada rumah serta kayu. Memang di dalam rumah Naga ini tidak ada perabot sama sekali sehingga ruangan terkesan Lapang dan luas sert dingding rumah yang dikapur(dilapisi kapur yang di campur air) sehingga berwarna putih. Dengan pemakaian kapur, dingding rumah lebih awet dan berkesan bersih











Gambar 12. Interior Dapur 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

EKSTERIOR
PINTU
Pada rumah naga terdapat dua (2) pintu yang berbeda , pintu kayu sebagai pintu utama sedangkan pintu sasag digunakan untuk pintu dapur. Pada daun pintu dapur digantungkan sawen yang terbuat dari daun jukut palias dan darangdan. Sawen sendiri dipercaya oleh masyarakat naga sebagai semacam jimat marabahaya.



















Gambar 13. pintu
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

LUBANG ANGIN
 Lubang angina sebagai sarana pertukaran udara juga sekaligus menunjukan cita rasa seni masyarakat Naga, lubang angina ini sendiri berada di atap/ plafond yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi di dalam ruang agar tidak panas dan juga sebagai tempat keluarny asap saat memasak

Gambar 14. sirkulasi plafond
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)


JENDELA 
Dari jendela dasar berdaun pintu kayu dihasilkan beberapa modifikasi. Ada yang tetap mempertahankan asalnya, ada yang diberi trails kayu dan ada yang sudah menggunakan kaca, serta sasag kayu











Gambar 15. Jendela
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)

ANYAMAN
Sasag dan bilik adalah dua jenis anyaman dasar. Sasag Horizontal digunakan untuk dingding dapur dan sasag Vertikal untuk pintu dapur, adapun variasi warna dan corak anyaman terlihat dalam jumlah yang tidak seberapa









Gambar 16. anyaman
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan Rahmat dan Karunia-Nyalah yang telah memberikan kesehatan sehingga penyusun bisa menyelesaikan makalah, Arsitektur Nusantara. Tak lupa shalawat dan salam saya panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
 Tak lupa juga saya ucapkan kepada :
1.Ibu / Bapak Dosen yang telah membantu pembuatan makalah ini
2.Bapak Pudji Wismantara, MT selaku dosen mata kuliah Arsitektur Nusantara
3.Masyaraakat Kampung Naga
4.Teman-teman yang telah memberi support dikala pembuatan makalah

Namun demikian penulis menyadari banyak sekali kekeliruan serta ekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis meminta saran serta kritik yang membangun demi perbaikan dari makalah selanjutnya dari para pembaca.

  Penyusun


Muhammad Naufal












TUGAS MAKALAH
Akustika gedung opera









Nama Mahasiswa : Muhammad Naufal
NIM : 06560024
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
2008/2009







DAFTAR PUSTAKA



www. Wikipedia.com
padma,adry.dkk. Kampung Naga. Bandung, Indonesia: Foris
Hasil Observasi
PENDAHULUAN

Kampung Naga adalah sebuah perkampungan yang di huni oleh Masyarakat suku sunda yang berada di Garut tepatnya di kecamatan Neglasari, konon pada masa Kerajaan Galunggung di abad 15-16, lembah Kampung Naga adalah tempat persembunyian Singaparna yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Naga. Singaparna-putera bungsu Prabu Rajadipuntang, Raja terakhir Kerajaan Galunggung-ditugaskan menjaga pusaka kerajaan dari incaran para pemberontak. Untuk itu ia mewarisi ilmu “kebodohan” dari ayahnya. Dengan bekalnya, Singaparna di harapkan dapat bersembunyi mengelabui musuh agar pusaka tetap aman. Dipilih-nyalah suatu lahan di kaki bukit, ditepi sungai Ciwulan, tersembunyi dikelilingi bukit-bukit.
 Di tempat itu Singaparna membangun per-mukiman untuk melanjutkan kehidupannya.Lahan yang strategis itu bagaikan “tersembunyi di tempat yang terang”. Sungai, mata air, hutan,lahan subur serta aliran udara yang menyediakan semuanya yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan permukiman. Lahan dari kampung naga ini sendiri berada di lereng gunung yang terjal dan tersembunyi dari luar sehingga penggunaan teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah maupun lahan menggunakan system sengkedan dan bahan-bahan alam yang berada di sekitarnya sehingga antara semuanya memiliki satu kesatuan dan saling terikat juga tidak merusak alam sekitarnya , hal itu di karenakan hukum adat yang di pegang oleh masyarakat Naga sangat di jaga dan yang memimpin dari kesemuanya itu adalah seorang kuncen yang dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin mereka.
Analisa Kontur
 Kampong naga sendiri yang berada di lereng gunung serta di kelilingi oleh gunung, sehingga pola tapak mengunakan tipe sengkedan, yang mana sangat fungsional baik dari segi pertanian, pembangunan serta keadaan kontur gunung yan tidak stabil sehingga dimungkinkan dengan kontur dibuat sengkedan agar memudahkan penyaluran air untuk pertanian khususnya persawahan, mengurangi resiko terjadinya Longsor serta dengan adanya sengkedan maka akan secara tidak langsung membuat sebuah filosofi dari beda ketinggian antara satu bangunan dengan bangunan yang lainya yang mana bangunan yang memiliki nilai sakralisai tinggi ditempatkan di tempat yang tinggi/ orang yang di tuakan di tempatkan di tempat tinggi sedangkan yang muda berada di bawah sehingga seolah-olah yang muda menjaga yang tua.
Fungsi Arsitektur Menurut Jan Mukarovsky
1. Referential Function 
Arsitektur mengacu pada referensi kelokalan atau tradisi dan juga kesejarahan
Arsitektur tersusun oleh komposisi & kombinasi elemen-elemen bentuk & ruang , yang masing-masing mengacu pada referensi kelokalan (budaya) & kesejarahan
Suatu arsitektur yang terkomposisi secara khas (terkait ruang & waktu) menunjukkan keberbedaan referensi dengan variasi arsitektur lainnya
Untuk dapat memahami fungsi estetis, arsitektur harus dihadirkan berdasarkan 
2. Aesthetic Function 
Fungsi estetika adalah potensi yg bisa ditonjolkan dari suatu tipe arsitektur di samping struktur 
Ruang lingkup fungsi ini meliputi keharmonisan antara warna, tekstur, media, wujud geometri, dan kesesuaian pengaturan komposisi pada lingkungannya
Fungsi estetika adalah pesan arsitektural yang harus dipahami oleh pengamatnya
3. Allusory Function 
Fungsi ini melihat arsitektur secara faktual dengan cara menangkap “kenangan” dari arsitektur lain sebagai acuan
Fungsi ini didasarkan pada manifestasi “kenangan” sejarah, misalnya dengan menonjolkan sebagian atau beberapa bagian bangunan bersejarah ke dalam bentuk bangunan yang dibuat di masa sekarang 
Contoh pada kasus restoran di suatu kota Eropa yang beberapa komponen bangunannya meniru gaya rumah bangsa Jepang
4. Territorial Function 
Fungsi ini dapat memberikan kejelasan teritori suatu ruang dalam pembedaannya dengan ruang yang lain
Instruksi yang dipakai untuk membedakan fungsi ruang suatu bangunan dengan ruang yg lain dapat dilakukan dengan penandaan setiap elemen pembentuk ruangnya
Penandaan ini mencakup kesan elemen pembentuk ruang beserta suasana ruang yang tercipta secara khas & spesifik



5. Expressive Function 
Fungsi ini adalah bentuk penekanan & pengejawantah-an terhadap bermacam aspek identitas, melalui isyarat-isyarat atau penanda yang diberikan pada arsitekturnya
Isyarat atau penanda itu diterjemahkan ke dalam arsitektur sebagai pembedaan fungsi serta untuk siapa ruangan yang ada pada arsitektur tersebut ditujukan
Isyarat-isyarat seperti ini akan melibatkan detail-detail geometri atau bentuk-bentuk spatial, penggunaan material yang khas, warna, tekstur, norma-norma pemakaian dan ketepatan
Factor Iklim

Keadaan iklim di daerah ini adalah tropis basah sehingga :
Cirri ilkim tropis basah
Presipitasi dan kelembaban tinggi
Temperature yang selalu tinggi
Angin sedikit
Radiasi matahari sangat kuat
Pertukaran panas sangat kecil

Masalah umum
Panas sangat tidak menyenangkan
Penguapan sedikit, gerak udara lambat
Perlu perlindungan terhadap radiasi matahari, hujan dan serangga


Hal yang harus diperhatikan
Bangunan pada kampong naga ini terbuka dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain memiliki ruang yang cukup sehingga sirkulasi udara dapat mengalir kesetiap sisi rumah
Rumah-rumah yang berada di kampong naga ini menghadap ke utara dan selatan guna menghindari matahari secara langsung yang mencoba memasuki rumah
Penggunaan teras pada depan rumah sebagai peneduh
Tatanan masa
Rumah suku sunda ini memiliki bentuk persegi panjang yang terdiri dari 6 Zona yang mana tiap-tiap zona memiliki fungsi masing-masing serta dapat di klasifikasikan sebagai Zona “feminim”, Zona “maskulin” dan Zona Netral











Gambar 1. Denah Rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung naga:jakarta 2001)

1.Tepas (Ruang Tamu)
2.Pangkeng (Ruang Tidur)
3.Tengah imah (Tengah Rumah)
4.Pawon (Dapur), 4a : Kompor
5.Goah
6.Golodog (Teras Rumah) 
Pawon dan Goah adalah Zona feminism yang umumnya digunakan oleh para wanita, Sedangkan Tepas dan Golodog adalah Zona maskulin yang sering digunakan oleh para pria sedangkan pangkeng dan tengah imah merupakan daerah netral yang digunakan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan. Adanya penzoningan tersebut dimungkinkan untuk memudahkan pengawasan serta kebutuhan-kebutahn yang diperlukan oleh user atau jika secara bahasa arsitektur ialah ruangan privat,semi privat dan publik


TATANAN MASA
 Keadaan alam kampung Naga yang tropis basah sehingga mengakibatkan kelembaban yang sangat tinggi serta berada di lereng gunung sehingga bentukan-bentukan bangunannya pun ikut mempengaruhi seperti bentuk atap pelana yang setengah patah ke dalalm memungkinkan merembesnya air hujan menjadi lebih cepat.
TANDUK
Berfungsi untuk menyalurkan air sehingga tidak merembes ke dalam para (langit-langit/plafond), juga sebagai penyangga langit-langit rumah








ATAP











Gambar 2. konstruksi Atap
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



Berbentuk sulah nyanda (bentuk atap pelana setengah patah kedalam) dengan penutup atap berupa daun eurih yaitu sebangsa ilalang, atau daun tepus yang lalu ditutupi ijuk. Bahan-bahan ini memungkinkan pergantian udara kedalam rumah melalui atap. Masyarakat Naga percaya bahwa mempergunakan atap genteng adalah tabu, dan selain itu mempergunakan ijuk lebih tahan lam daripada menggunakan Genteng. Akan tetapi dari kekurangan bahan ijuk ini adalah struktur dari langit-langit atap harus lah kuat, hal itu dikarenakan ijuk yang digunakan sangat banyak serta memiliki ketebalan sampai 10 cm sehingga beban ke pondasi langit-langit sendiri sangat berat.

DINGDING

Dingding dari bangunan pada rumah suku Sunda mempunyai rangka dari kayu Albasia berukuran 5 x 10 cm. Untuk penutup digunakan anyaman sasag, anyaman bilik dan papan kayu. Jenis bambu untuk bahan dingding adalah bambu tali(awi tali). Sebelum digunakan, semua bahan bambu di jemur terlebih dhulu untuk meningkatkan keawetannya. Sedangkan dari segi kekurangan dari bahan anyaman bambu ini adalah dinginnya udara pada malam han dari akan sangat terasa dingin juga perlu pengecetan menggunakan kapur agar tidak lembab serta menjaga keawetan dari bangunan itu sendiri.


Gambar 3 & 4. Anyaman Bambu sebagai dingding
(Sumber: Observasi)



TIANG / TIHANG
Terbuat dari kayu Albasia yang dipotong 10 x 10 cm. Supaya lebih awet, tiang dan bahan kayu lain direndam dalam Lumpur minimal 40 hari, dibersihkan, dan dijemur. Untuk menghindari kelembaban tanah, tiang(tihang) tidak diletakan langsung di atas tanah melainkan diberi alas batu yang di sebut tatapakan(pondasi)








Gambar 5. Tihang dan pondasi
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

PINTU/PANTO
Letak pintu berdasarkan perhitungan weton(hari lahir) istri pemilik rumah. Lebar pintu sekitar 70 cm dengan ketinggian 150-170 cm. Umumnya di buat dari kayu dengan tebal 4cm dan kaca sebagai tambahan. Khusus untuk pintu dapur di wajibkan penggunaan anyaman sasag vertical dan digantung rempah-rempah serta ketupat yang di maksudkan untuk menolak bala(musibah)

















Gambar 6. macam-macam pintu
(Sumber: Observasi)

JENDELA
Daun jendela umumnya terbuat dari kayu suren atau albasia. Ukuran Jendela berkisar antara 40 x 60 cm atau 50 x 70 cm dan saat ini kaca pada kampung Naga sendiri sudah menggunakan kaca sedangkan pada jaman dulu menggunakan Jalusi sebagai sirkulasi udara serta masuknya cahanya. Kelenihan dari menggunakan kaca sendiri yakni lebih efisien dari segi waktu,pencahayaan lebih bagus daripada Jalusi serta lebih hemat dalam biaya. 


Gambar 7. Jendela
(Sumber: Observasi)

LANTAI
Terbuat dari papan kayu memanjang, lebarnya 15-20 cm. Kadang di alasi tikar untuk duduk-duduk. Dapur menggunakan lantai palupuh . Bambu yang digunakan untuk membuat palupuh adalah jenis awi surat berdiameter (+)(-) 20.Penggunaan kayu pada lantai memberikan kesan hangat pada penghuni rumah, akan tetapi penggunaan kayu yang rentan terhadap lembab sehingga mengakibatkan lapuk sehingga kayu memerlukan pengawetan.

GOLODOG
Ruang peralihan sebelum masuk ke-rumah ini terbuat dari kayu dan bambu dengan bentuk empat persegi panjang. Ketinggiannya tergantung pondasi sehingga dapat mempunyai satu atau dua undakan. Golodog sendiri biasa digunakan oleh penghuni sebagai tempat melepas letih dan bercengkrama dengan tamu sebelum memasuki ruang tamu.

BATU PONDASI / TATAPAKAN
Ada dua jenis tatapakan, yaitu tatapakan jangkung dengan permukaan atas 20 x 20 cm dan permukaan bawah 25 x 25 cm, dan tatapakan buleud (bundar). Gaya berat rumah tersalur kedalam banyak titipk tatapakan, yaitu 5 titik di sisi panjang (palayu) dan 4 titik di sisi pendek (pongpok) 

Gambar 8. Pondasi
(Sumber: Observasi)

METODE KONSTRUKSI 

Masyarkat naga dalam memenuhi kebutuhan bahan bangunannya , mereka mendapatkanynya dari alam atau biasa juga di ambil dari kebun sendiri bahan-bahan seperti kayu dan bambu.
Adapun dalam membangun rumah mereka bekerja secara gotong royong seperti :
1.Pekerjaan pertama adalah meratakan tanah dan mengukur besar rumah. Masyarakat Naga percaya bahwa ukuran denah rumah perlu dilebihkan sebesar telapak tangan supaya penghuninya kelak selalu dikaruniai rezeki, diistilahkan dengan panghurip. Dipasang pula bentengan (batu-batu penahan tanah di sekeliling tapak rumah). Tstspsksn (pondasi) diletakan sesudahnya dan dilanjutkan dengan upacara pemotongan ayam.
2.Balok-balok utama dipasang- balok sisi pendek disebut gagulur sedangkan balok sisi panjang disebut sarang. Sesuai pemasangan parako sebagai penyangga hawu, tiang-tiang utama didirikan dengan ketentuan 5 tiang kayu di sisi panjang, disebut 5 katimbang, dan 4 tiang kayu di sisi pendek. Balok-balok rangka dingding atau palang dada dan kusen .
3.Rangka atap yang telah disiapkan didirikan dan disusul dengan pemasangan penutupa atapnya
4.Tapah akhir adalah tahap penyelesaian. Bahan penutup lantai, dingding, daun pintu dan daun jendela dipasan pada tahap ini. Slametan diadakan sekali lagi setelah rumah selesai



































pada umumnya elemen 

Gambar 9. konstruksi rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

konstruksi bangunan-tiang, atap, rangka dingding-disambungkan dengan cara di paku, diikat dengan tali dari bamboo, atau di buat lubang atau pen(tonjolan pada ujung balok yang ukurannya sesuai dengan ukuran lubang). Balok lantai malah hanya ditumpangkan pada batu pondasi. System struktur seperti ini justru lebih tahan gempa.

Teknologi

Teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah Naga ini menggunakan bahan material alam serta, didirikan secara gotong royong, adapun faktr teknologi kehidupan di kampung naga ini yang mana karena sebagian lahan kampong naga ini mempunyai kemiringan yang cukup curam sehingga, hal ini mendorong masyarakat Naga untuk bersikap bijaksana dalam membentuk lahan pemukiman, dan teknologi warisan leluhur berupa sengked batu menjadi car untuk menjawab kondisi alam, sengkedan tersebut menggunakan batu sungai ciwulan sebagai penahan. Tinggi sengked-sengked batu tersebut berkisar antara empat puluh sentimeter sampai 6 meter.
 System sengkedan tersebut memungkinkan lahan lebih stabil,sehingga bangunan-bangunan dapat berdiri, tertata rapi di lahan-lahan datar yang terbentuk oleh system sengkedan itu. Lumut yang tumbuh di antara batu-batu sengked, melekatkan batu-batu itu satu sama lainnya sehingga memperkokoh konstruksi sengked.









Gambar 10. pemanfaatan Limbah 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

Pemilihan lahan

Lahan dari kampung naga ini, dikelilingi oleh bukit-bukit sehingga kampong Naga ini berada dilereng dari bukit tersebut oleh karena itu system yang di gunakan dalam pembangunan rumah ini menggunakan sisitem sengked sehingga sangat menyatu dengan alam sekitar. Kesederhanaan masyarakat naga juga telihat dari besaran lahan yang akan digunakan sebagai rumah hanya 30-60 m tiap rumahnya

Gambar 11. Lahan 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



INTERIOR
Bagian dalam rumah Naga Atau interiornya sangat minimalis sekali atau tanpa corak, hal itu di karenakan adanya kesederhanaan pada masyarakat naga dan yang ada hanya anyaman dari bamboo yang menjadi dingding pada rumah serta kayu. Memang di dalam rumah Naga ini tidak ada perabot sama sekali sehingga ruangan terkesan Lapang dan luas sert dingding rumah yang dikapur(dilapisi kapur yang di campur air) sehingga berwarna putih. Dengan pemakaian kapur, dingding rumah lebih awet dan berkesan bersih











Gambar 12. Interior Dapur 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

EKSTERIOR
PINTU
Pada rumah naga terdapat dua (2) pintu yang berbeda , pintu kayu sebagai pintu utama sedangkan pintu sasag digunakan untuk pintu dapur. Pada daun pintu dapur digantungkan sawen yang terbuat dari daun jukut palias dan darangdan. Sawen sendiri dipercaya oleh masyarakat naga sebagai semacam jimat marabahaya.



















Gambar 13. pintu
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

LUBANG ANGIN
 Lubang angina sebagai sarana pertukaran udara juga sekaligus menunjukan cita rasa seni masyarakat Naga, lubang angina ini sendiri berada di atap/ plafond yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi di dalam ruang agar tidak panas dan juga sebagai tempat keluarny asap saat memasak

Gambar 14. sirkulasi plafond
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)


JENDELA 
Dari jendela dasar berdaun pintu kayu dihasilkan beberapa modifikasi. Ada yang tetap mempertahankan asalnya, ada yang diberi trails kayu dan ada yang sudah menggunakan kaca, serta sasag kayu











Gambar 15. Jendela
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)

ANYAMAN
Sasag dan bilik adalah dua jenis anyaman dasar. Sasag Horizontal digunakan untuk dingding dapur dan sasag Vertikal untuk pintu dapur, adapun variasi warna dan corak anyaman terlihat dalam jumlah yang tidak seberapa









Gambar 16. anyaman
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan Rahmat dan Karunia-Nyalah yang telah memberikan kesehatan sehingga penyusun bisa menyelesaikan makalah, Arsitektur Nusantara. Tak lupa shalawat dan salam saya panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
 Tak lupa juga saya ucapkan kepada :
1.Ibu / Bapak Dosen yang telah membantu pembuatan makalah ini
2.Bapak Pudji Wismantara, MT selaku dosen mata kuliah Arsitektur Nusantara
3.Masyaraakat Kampung Naga
4.Teman-teman yang telah memberi support dikala pembuatan makalah

Namun demikian penulis menyadari banyak sekali kekeliruan serta ekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis meminta saran serta kritik yang membangun demi perbaikan dari makalah selanjutnya dari para pembaca.

  Penyusun


Muhammad Naufal












TUGAS MAKALAH
Akustika gedung opera









Nama Mahasiswa : Muhammad Naufal
NIM : 06560024
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
2008/2009







DAFTAR PUSTAKA



www. Wikipedia.com
padma,adry.dkk. Kampung Naga. Bandung, Indonesia: Foris
Hasil Observasi
PENDAHULUAN

Kampung Naga adalah sebuah perkampungan yang di huni oleh Masyarakat suku sunda yang berada di Garut tepatnya di kecamatan Neglasari, konon pada masa Kerajaan Galunggung di abad 15-16, lembah Kampung Naga adalah tempat persembunyian Singaparna yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Naga. Singaparna-putera bungsu Prabu Rajadipuntang, Raja terakhir Kerajaan Galunggung-ditugaskan menjaga pusaka kerajaan dari incaran para pemberontak. Untuk itu ia mewarisi ilmu “kebodohan” dari ayahnya. Dengan bekalnya, Singaparna di harapkan dapat bersembunyi mengelabui musuh agar pusaka tetap aman. Dipilih-nyalah suatu lahan di kaki bukit, ditepi sungai Ciwulan, tersembunyi dikelilingi bukit-bukit.
 Di tempat itu Singaparna membangun per-mukiman untuk melanjutkan kehidupannya.Lahan yang strategis itu bagaikan “tersembunyi di tempat yang terang”. Sungai, mata air, hutan,lahan subur serta aliran udara yang menyediakan semuanya yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan permukiman. Lahan dari kampung naga ini sendiri berada di lereng gunung yang terjal dan tersembunyi dari luar sehingga penggunaan teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah maupun lahan menggunakan system sengkedan dan bahan-bahan alam yang berada di sekitarnya sehingga antara semuanya memiliki satu kesatuan dan saling terikat juga tidak merusak alam sekitarnya , hal itu di karenakan hukum adat yang di pegang oleh masyarakat Naga sangat di jaga dan yang memimpin dari kesemuanya itu adalah seorang kuncen yang dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin mereka.
Analisa Kontur
 Kampong naga sendiri yang berada di lereng gunung serta di kelilingi oleh gunung, sehingga pola tapak mengunakan tipe sengkedan, yang mana sangat fungsional baik dari segi pertanian, pembangunan serta keadaan kontur gunung yan tidak stabil sehingga dimungkinkan dengan kontur dibuat sengkedan agar memudahkan penyaluran air untuk pertanian khususnya persawahan, mengurangi resiko terjadinya Longsor serta dengan adanya sengkedan maka akan secara tidak langsung membuat sebuah filosofi dari beda ketinggian antara satu bangunan dengan bangunan yang lainya yang mana bangunan yang memiliki nilai sakralisai tinggi ditempatkan di tempat yang tinggi/ orang yang di tuakan di tempatkan di tempat tinggi sedangkan yang muda berada di bawah sehingga seolah-olah yang muda menjaga yang tua.
Fungsi Arsitektur Menurut Jan Mukarovsky
1. Referential Function 
Arsitektur mengacu pada referensi kelokalan atau tradisi dan juga kesejarahan
Arsitektur tersusun oleh komposisi & kombinasi elemen-elemen bentuk & ruang , yang masing-masing mengacu pada referensi kelokalan (budaya) & kesejarahan
Suatu arsitektur yang terkomposisi secara khas (terkait ruang & waktu) menunjukkan keberbedaan referensi dengan variasi arsitektur lainnya
Untuk dapat memahami fungsi estetis, arsitektur harus dihadirkan berdasarkan 
2. Aesthetic Function 
Fungsi estetika adalah potensi yg bisa ditonjolkan dari suatu tipe arsitektur di samping struktur 
Ruang lingkup fungsi ini meliputi keharmonisan antara warna, tekstur, media, wujud geometri, dan kesesuaian pengaturan komposisi pada lingkungannya
Fungsi estetika adalah pesan arsitektural yang harus dipahami oleh pengamatnya
3. Allusory Function 
Fungsi ini melihat arsitektur secara faktual dengan cara menangkap “kenangan” dari arsitektur lain sebagai acuan
Fungsi ini didasarkan pada manifestasi “kenangan” sejarah, misalnya dengan menonjolkan sebagian atau beberapa bagian bangunan bersejarah ke dalam bentuk bangunan yang dibuat di masa sekarang 
Contoh pada kasus restoran di suatu kota Eropa yang beberapa komponen bangunannya meniru gaya rumah bangsa Jepang
4. Territorial Function 
Fungsi ini dapat memberikan kejelasan teritori suatu ruang dalam pembedaannya dengan ruang yang lain
Instruksi yang dipakai untuk membedakan fungsi ruang suatu bangunan dengan ruang yg lain dapat dilakukan dengan penandaan setiap elemen pembentuk ruangnya
Penandaan ini mencakup kesan elemen pembentuk ruang beserta suasana ruang yang tercipta secara khas & spesifik



5. Expressive Function 
Fungsi ini adalah bentuk penekanan & pengejawantah-an terhadap bermacam aspek identitas, melalui isyarat-isyarat atau penanda yang diberikan pada arsitekturnya
Isyarat atau penanda itu diterjemahkan ke dalam arsitektur sebagai pembedaan fungsi serta untuk siapa ruangan yang ada pada arsitektur tersebut ditujukan
Isyarat-isyarat seperti ini akan melibatkan detail-detail geometri atau bentuk-bentuk spatial, penggunaan material yang khas, warna, tekstur, norma-norma pemakaian dan ketepatan
Factor Iklim

Keadaan iklim di daerah ini adalah tropis basah sehingga :
Cirri ilkim tropis basah
Presipitasi dan kelembaban tinggi
Temperature yang selalu tinggi
Angin sedikit
Radiasi matahari sangat kuat
Pertukaran panas sangat kecil

Masalah umum
Panas sangat tidak menyenangkan
Penguapan sedikit, gerak udara lambat
Perlu perlindungan terhadap radiasi matahari, hujan dan serangga


Hal yang harus diperhatikan
Bangunan pada kampong naga ini terbuka dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain memiliki ruang yang cukup sehingga sirkulasi udara dapat mengalir kesetiap sisi rumah
Rumah-rumah yang berada di kampong naga ini menghadap ke utara dan selatan guna menghindari matahari secara langsung yang mencoba memasuki rumah
Penggunaan teras pada depan rumah sebagai peneduh
Tatanan masa
Rumah suku sunda ini memiliki bentuk persegi panjang yang terdiri dari 6 Zona yang mana tiap-tiap zona memiliki fungsi masing-masing serta dapat di klasifikasikan sebagai Zona “feminim”, Zona “maskulin” dan Zona Netral











Gambar 1. Denah Rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung naga:jakarta 2001)

1.Tepas (Ruang Tamu)
2.Pangkeng (Ruang Tidur)
3.Tengah imah (Tengah Rumah)
4.Pawon (Dapur), 4a : Kompor
5.Goah
6.Golodog (Teras Rumah) 
Pawon dan Goah adalah Zona feminism yang umumnya digunakan oleh para wanita, Sedangkan Tepas dan Golodog adalah Zona maskulin yang sering digunakan oleh para pria sedangkan pangkeng dan tengah imah merupakan daerah netral yang digunakan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan. Adanya penzoningan tersebut dimungkinkan untuk memudahkan pengawasan serta kebutuhan-kebutahn yang diperlukan oleh user atau jika secara bahasa arsitektur ialah ruangan privat,semi privat dan publik


TATANAN MASA
 Keadaan alam kampung Naga yang tropis basah sehingga mengakibatkan kelembaban yang sangat tinggi serta berada di lereng gunung sehingga bentukan-bentukan bangunannya pun ikut mempengaruhi seperti bentuk atap pelana yang setengah patah ke dalalm memungkinkan merembesnya air hujan menjadi lebih cepat.
TANDUK
Berfungsi untuk menyalurkan air sehingga tidak merembes ke dalam para (langit-langit/plafond), juga sebagai penyangga langit-langit rumah








ATAP











Gambar 2. konstruksi Atap
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



Berbentuk sulah nyanda (bentuk atap pelana setengah patah kedalam) dengan penutup atap berupa daun eurih yaitu sebangsa ilalang, atau daun tepus yang lalu ditutupi ijuk. Bahan-bahan ini memungkinkan pergantian udara kedalam rumah melalui atap. Masyarakat Naga percaya bahwa mempergunakan atap genteng adalah tabu, dan selain itu mempergunakan ijuk lebih tahan lam daripada menggunakan Genteng. Akan tetapi dari kekurangan bahan ijuk ini adalah struktur dari langit-langit atap harus lah kuat, hal itu dikarenakan ijuk yang digunakan sangat banyak serta memiliki ketebalan sampai 10 cm sehingga beban ke pondasi langit-langit sendiri sangat berat.

DINGDING

Dingding dari bangunan pada rumah suku Sunda mempunyai rangka dari kayu Albasia berukuran 5 x 10 cm. Untuk penutup digunakan anyaman sasag, anyaman bilik dan papan kayu. Jenis bambu untuk bahan dingding adalah bambu tali(awi tali). Sebelum digunakan, semua bahan bambu di jemur terlebih dhulu untuk meningkatkan keawetannya. Sedangkan dari segi kekurangan dari bahan anyaman bambu ini adalah dinginnya udara pada malam han dari akan sangat terasa dingin juga perlu pengecetan menggunakan kapur agar tidak lembab serta menjaga keawetan dari bangunan itu sendiri.


Gambar 3 & 4. Anyaman Bambu sebagai dingding
(Sumber: Observasi)



TIANG / TIHANG
Terbuat dari kayu Albasia yang dipotong 10 x 10 cm. Supaya lebih awet, tiang dan bahan kayu lain direndam dalam Lumpur minimal 40 hari, dibersihkan, dan dijemur. Untuk menghindari kelembaban tanah, tiang(tihang) tidak diletakan langsung di atas tanah melainkan diberi alas batu yang di sebut tatapakan(pondasi)








Gambar 5. Tihang dan pondasi
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

PINTU/PANTO
Letak pintu berdasarkan perhitungan weton(hari lahir) istri pemilik rumah. Lebar pintu sekitar 70 cm dengan ketinggian 150-170 cm. Umumnya di buat dari kayu dengan tebal 4cm dan kaca sebagai tambahan. Khusus untuk pintu dapur di wajibkan penggunaan anyaman sasag vertical dan digantung rempah-rempah serta ketupat yang di maksudkan untuk menolak bala(musibah)

















Gambar 6. macam-macam pintu
(Sumber: Observasi)

JENDELA
Daun jendela umumnya terbuat dari kayu suren atau albasia. Ukuran Jendela berkisar antara 40 x 60 cm atau 50 x 70 cm dan saat ini kaca pada kampung Naga sendiri sudah menggunakan kaca sedangkan pada jaman dulu menggunakan Jalusi sebagai sirkulasi udara serta masuknya cahanya. Kelenihan dari menggunakan kaca sendiri yakni lebih efisien dari segi waktu,pencahayaan lebih bagus daripada Jalusi serta lebih hemat dalam biaya. 


Gambar 7. Jendela
(Sumber: Observasi)

LANTAI
Terbuat dari papan kayu memanjang, lebarnya 15-20 cm. Kadang di alasi tikar untuk duduk-duduk. Dapur menggunakan lantai palupuh . Bambu yang digunakan untuk membuat palupuh adalah jenis awi surat berdiameter (+)(-) 20.Penggunaan kayu pada lantai memberikan kesan hangat pada penghuni rumah, akan tetapi penggunaan kayu yang rentan terhadap lembab sehingga mengakibatkan lapuk sehingga kayu memerlukan pengawetan.

GOLODOG
Ruang peralihan sebelum masuk ke-rumah ini terbuat dari kayu dan bambu dengan bentuk empat persegi panjang. Ketinggiannya tergantung pondasi sehingga dapat mempunyai satu atau dua undakan. Golodog sendiri biasa digunakan oleh penghuni sebagai tempat melepas letih dan bercengkrama dengan tamu sebelum memasuki ruang tamu.

BATU PONDASI / TATAPAKAN
Ada dua jenis tatapakan, yaitu tatapakan jangkung dengan permukaan atas 20 x 20 cm dan permukaan bawah 25 x 25 cm, dan tatapakan buleud (bundar). Gaya berat rumah tersalur kedalam banyak titipk tatapakan, yaitu 5 titik di sisi panjang (palayu) dan 4 titik di sisi pendek (pongpok) 

Gambar 8. Pondasi
(Sumber: Observasi)

METODE KONSTRUKSI 

Masyarkat naga dalam memenuhi kebutuhan bahan bangunannya , mereka mendapatkanynya dari alam atau biasa juga di ambil dari kebun sendiri bahan-bahan seperti kayu dan bambu.
Adapun dalam membangun rumah mereka bekerja secara gotong royong seperti :
1.Pekerjaan pertama adalah meratakan tanah dan mengukur besar rumah. Masyarakat Naga percaya bahwa ukuran denah rumah perlu dilebihkan sebesar telapak tangan supaya penghuninya kelak selalu dikaruniai rezeki, diistilahkan dengan panghurip. Dipasang pula bentengan (batu-batu penahan tanah di sekeliling tapak rumah). Tstspsksn (pondasi) diletakan sesudahnya dan dilanjutkan dengan upacara pemotongan ayam.
2.Balok-balok utama dipasang- balok sisi pendek disebut gagulur sedangkan balok sisi panjang disebut sarang. Sesuai pemasangan parako sebagai penyangga hawu, tiang-tiang utama didirikan dengan ketentuan 5 tiang kayu di sisi panjang, disebut 5 katimbang, dan 4 tiang kayu di sisi pendek. Balok-balok rangka dingding atau palang dada dan kusen .
3.Rangka atap yang telah disiapkan didirikan dan disusul dengan pemasangan penutupa atapnya
4.Tapah akhir adalah tahap penyelesaian. Bahan penutup lantai, dingding, daun pintu dan daun jendela dipasan pada tahap ini. Slametan diadakan sekali lagi setelah rumah selesai



































pada umumnya elemen 

Gambar 9. konstruksi rumah kampung Naga
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

konstruksi bangunan-tiang, atap, rangka dingding-disambungkan dengan cara di paku, diikat dengan tali dari bamboo, atau di buat lubang atau pen(tonjolan pada ujung balok yang ukurannya sesuai dengan ukuran lubang). Balok lantai malah hanya ditumpangkan pada batu pondasi. System struktur seperti ini justru lebih tahan gempa.

Teknologi

Teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah Naga ini menggunakan bahan material alam serta, didirikan secara gotong royong, adapun faktr teknologi kehidupan di kampung naga ini yang mana karena sebagian lahan kampong naga ini mempunyai kemiringan yang cukup curam sehingga, hal ini mendorong masyarakat Naga untuk bersikap bijaksana dalam membentuk lahan pemukiman, dan teknologi warisan leluhur berupa sengked batu menjadi car untuk menjawab kondisi alam, sengkedan tersebut menggunakan batu sungai ciwulan sebagai penahan. Tinggi sengked-sengked batu tersebut berkisar antara empat puluh sentimeter sampai 6 meter.
 System sengkedan tersebut memungkinkan lahan lebih stabil,sehingga bangunan-bangunan dapat berdiri, tertata rapi di lahan-lahan datar yang terbentuk oleh system sengkedan itu. Lumut yang tumbuh di antara batu-batu sengked, melekatkan batu-batu itu satu sama lainnya sehingga memperkokoh konstruksi sengked.









Gambar 10. pemanfaatan Limbah 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

Pemilihan lahan

Lahan dari kampung naga ini, dikelilingi oleh bukit-bukit sehingga kampong Naga ini berada dilereng dari bukit tersebut oleh karena itu system yang di gunakan dalam pembangunan rumah ini menggunakan sisitem sengked sehingga sangat menyatu dengan alam sekitar. Kesederhanaan masyarakat naga juga telihat dari besaran lahan yang akan digunakan sebagai rumah hanya 30-60 m tiap rumahnya

Gambar 11. Lahan 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)



INTERIOR
Bagian dalam rumah Naga Atau interiornya sangat minimalis sekali atau tanpa corak, hal itu di karenakan adanya kesederhanaan pada masyarakat naga dan yang ada hanya anyaman dari bamboo yang menjadi dingding pada rumah serta kayu. Memang di dalam rumah Naga ini tidak ada perabot sama sekali sehingga ruangan terkesan Lapang dan luas sert dingding rumah yang dikapur(dilapisi kapur yang di campur air) sehingga berwarna putih. Dengan pemakaian kapur, dingding rumah lebih awet dan berkesan bersih











Gambar 12. Interior Dapur 
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

EKSTERIOR
PINTU
Pada rumah naga terdapat dua (2) pintu yang berbeda , pintu kayu sebagai pintu utama sedangkan pintu sasag digunakan untuk pintu dapur. Pada daun pintu dapur digantungkan sawen yang terbuat dari daun jukut palias dan darangdan. Sawen sendiri dipercaya oleh masyarakat naga sebagai semacam jimat marabahaya.



















Gambar 13. pintu
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001)

LUBANG ANGIN
 Lubang angina sebagai sarana pertukaran udara juga sekaligus menunjukan cita rasa seni masyarakat Naga, lubang angina ini sendiri berada di atap/ plafond yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi di dalam ruang agar tidak panas dan juga sebagai tempat keluarny asap saat memasak

Gambar 14. sirkulasi plafond
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)


JENDELA 
Dari jendela dasar berdaun pintu kayu dihasilkan beberapa modifikasi. Ada yang tetap mempertahankan asalnya, ada yang diberi trails kayu dan ada yang sudah menggunakan kaca, serta sasag kayu











Gambar 15. Jendela
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)

ANYAMAN
Sasag dan bilik adalah dua jenis anyaman dasar. Sasag Horizontal digunakan untuk dingding dapur dan sasag Vertikal untuk pintu dapur, adapun variasi warna dan corak anyaman terlihat dalam jumlah yang tidak seberapa









Gambar 16. anyaman
(Sumber: padma press,kampung Naga:jakarta 2001 & hasil observasi)



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan Rahmat dan Karunia-Nyalah yang telah memberikan kesehatan sehingga penyusun bisa menyelesaikan makalah, Arsitektur Nusantara. Tak lupa shalawat dan salam saya panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
 Tak lupa juga saya ucapkan kepada :
1.Ibu / Bapak Dosen yang telah membantu pembuatan makalah ini
2.Bapak Pudji Wismantara, MT selaku dosen mata kuliah Arsitektur Nusantara
3.Masyaraakat Kampung Naga
4.Teman-teman yang telah memberi support dikala pembuatan makalah

Namun demikian penulis menyadari banyak sekali kekeliruan serta ekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis meminta saran serta kritik yang membangun demi perbaikan dari makalah selanjutnya dari para pembaca.

  Penyusun


Muhammad Naufal












TUGAS MAKALAH
Akustika gedung opera









Nama Mahasiswa : Muhammad Naufal
NIM : 06560024
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
2008/2009







DAFTAR PUSTAKA



www. Wikipedia.com
padma,adry.dkk. Kampung Naga. Bandung, Indonesia: Foris
Hasil Observasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar